Aku adalah salah satu mahasiswi Universitas Lancang Kuning
jurusan pendidikan bahasa Inggris. Tak cukup sebuah buku untuk menceritakan
kenapa aku bisa sampai ditempat ini, tetapi satu hal yang ku yakini, tempat ini
adalah salah satu anugerah bagiku. Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan,
tempat ku menuntut ilmu setiap harinya, menjadi rutinitas utama ku. Setiap hari
menuju kampus, membuat ku merasa senang selain aku bisa mendapat ilmu aku juga
bisa bertemu teman-temanku. Tetapi hari itu, aku sudah menginjak semester 2,
kejenuhan ku mulai terasa. Rasa lelah, bosan, dan malas seperti beradu didalam
benakku bahkan terkadang untuk bangun pagi pun aku merasa malas karena
mengingat kegiatan ku dikampus yang itu-itu saja rasanya ingin aku terlelap di
kasurku sepanjang hari tanpa memikirkan perkuliahan, tugas, dan rutinitasku
sehari-hari.
Kala itu, tepat 6bulan
yang lalu Ana teman sekamarku mengenalkan aku kepada seorang teman yang bernama
Sandy. Dia anak yang sederhana, ramah dan benar-benar memiliki attitude yang
baik. Jujur aku ini bukanlah seorang yang baik dalam sosialisasi, aku salah
satu orang yang bisa dibilang introvert. Aku lebih memiliki banyak teman dari
dunia maya bahkan sampai diluar Indonesia, tetapi di dunia nyata aku orang yang
lebih tertutup dan tidak ingin memiliki teman yang banyak karena bagiku itu
hanya merepotkan ku dan selama aku sebagai mahasiswi di Universitas Lancang
Kuning, aku hanya memiliki seorang teman baik yang sangat mengenal ku dan paham
dengan pribadiku dia adalah Devi.
Perkenalan itu dimulai sejak Sandy
datang ke kos-kosan ku untuk bertemu Ana dan waktu itu aku diajak untuk
berbincang-bincang dengannya aku hanya mengikut saja. Kami berkenalan dan dia
anak yang aktif dalam berbicara, banyak pertanyaan yang dilontarkan dan susana itu
menjadi tidak canggung walaupun kami baru berkenalan. Sandy adalah salah satu
mahasiswa Universitas Lancang Kuning juga, dia duduk dijurusan kehutanan. Dan
ia bertanya padaku “kamu suka sama alam gak?” lalu aku menjawab “biasa saja”.
Dia hanya tersenyu mendengarnya dan suasana itu hening sejenak akhirnya dia
memecahkan keheningan itu dengan bertanya “mungkin kamu akan berubah fikiran
setelah aku ajak ke suatu tempat, aku sebut a peace of heaven of University of
Lancang Kuning karena itu tempat yang sangat indah dan aku fikir kamu akan
mencintai alam, kalau kau tidak keberatan besok sore aku aku menjemputmu untuk
mengunjungi tempat itu, dan mungkin kau bisa belajar banyak soal sosialisasi
yang baik disana” i think it sounds good so i accept that invitation.
Keesokan harinya kami pun pergi ke
tempat itu, lokasinya tak jauh dari rektorat Universitas Lancang Kuning kami
berjalan kaki. Sore itu, langit begitu terik dan tempat yang dituju benar-benar
membuatku kecewa karen ku fikir lokasinya akan mudah untuk dikunjungi. Ternyata
untuk menuju lokasi tersebut aku harus berjalan di semak dan begitu banyak
pepohonan besar juga banyak nyamuk dan binatang melata lainnya. “A peace of
heaven apaan, tempatnya kaya gini malah buat gatal-gatal yang ada” ketusku.
Tetapi dia menjawab dengan sabar celotehku “nikmati saja perjalanannya, jangan
banyak mengeluh. Akan terasa semakin lelah kalau kamu bersungut-sungut dalam
perjalanan ini” aku pun tertegun dan diam jujur aku tidak bisa menikmati
perjalanannya. Tiba-tiba saja kaki ku tergelincir, jalan ke situ tidak di aspal
dan semalam hari hujan dan jalanan itu menjadi licin benar-benar hari yang sial
bagiku. Sandy hanya tertawa tanpa menolong, aku bangkit sendiri dalam hati pun aku
tak butuh bantuannya.
Setelah 15menit berjalan, aku
melihat jalanan turunan dan aku bertanya “kita jalan kebawah?” lalu dia
menjawab “ya, kita sampai”. Kami pun berjalan kebawah, dan kalian tak akan
percaya akan apa yang aku lihat. “Ini tempatnya bagus bukan?” begitu katanya.
Aku hanya tersenyum dan berlari ke arah tempat itu. Tempai itu seperti gubuk
tetapi dalam ukuran besar bertingkat 2, diluar dihiasi dengan typografi kayu
yang sudah dicat bewarna-warni dengan
beberapa quotes untuk mengajak kita mencitai alam dan melestarikannya. Tetapi 1
typografi yang membuat ku tertarik yang bertuliskan “Pendopo Kehutanan
Universitas Lancang Kuning” ya itulah nama tempat itu, mereka menyebutkan a
piece of heaven. Ya, benar aku setuju tempat itu begitu asri, nyaman dan damai.
Sandy memanggil “ayo masuk kedalam,
akan ku kenalkan kamu kepada orang-orang yang tak akan pernah kau lupakan” aku
mengikutinya dari belakang. Setelah masuk aku melihat ada 2 orang laki-laki
yang ramah mereka antusias menyalam ku “Aku Adit, alumni fakultas kehutanan
Lancang Kuning. Aku tidur disini, disini rumahku dan rumah kami semoga kamu
suka berkunjung ke sini” lalu aku menjawab “Aku Friska, jurusan fkip bahasa
inggris” dan satu lagi juga memperkenalkan namanya “Aku Dindra, aku mahasiswa
semester 6 fakultas kehutanan aku juga tidur disini, sangat menyenangkan bisa
kehadiran tamu dari fakultas lain kami sangan senang bisa memperkenalkan tempat
ini” begitu dia memperkenalkan dirinya dengan ramahnya. Jujur, untuk ku yang
seorang introvert agak sulit untuk ramah dengan orang-orang yang baru aku
kenal. Tetapi mereka membuatku merasa nyaman dan aku menganggap mereka seperti
abang-abangku sendiri. Mereka menyuruhku duduk dan menghidangkan minuman dan
makanan yang mereka masak dengan gaya alam juga menyediakan buah-buahan. Aku
sangat menikmati masa-masa itu.
Aku mulai bertanya kenapa mereka
mau menghabiskan waktu mereka untuk tinggal dan hidup disini, mereka menjawab “Disini
tempat yang nyaman, disini kamu bisa lebih bersyukur atas apapun yang kamu
miliki. Ketika semua orang memasak dengan kompor gas, kamu harus sabar memasak
dengan kayu api. Ketika kamu memiliki kamar mandi yang bagus dan bisa
berlama-lama didalam, disini kita hanya memiliki 1kamar mandi umum yang harus
dipakai bergantian dan itu melatih kita untuk efisien dalam waktu.” Aku hanya
tersenyum didalam hati aku juga merasa aku orang yang tidak bersyukur atas
semuanya yang aku miliki Kak Dindra menghentikan hening ku “Disini kita juga
kerja sama, hidup bersosialisasi itu sangatlah penting. Kamu tau, sekalipun
kamu pintar dan memiliki intelektual yang tinggi tetapi kamu seorang introvert
dan tidak welcome kepada orang lain, itu sama saja bohong. Kerja sama itu hal
yang terpenting dalam hidup, contohnya saja tempat ini. Yang membuatkan adalah
anak-anak fakultas kehutanan, berterima kasihlah kepada mereka didaln hati,
karena mereka kita bisa menikmati fasilitas disini, juga alat-alat disini
dibeli bukan dengan pribadi tetapi dengan patungan. Begitu juga dengan
typografi, kami semua bukan orang yang hebat dalam typografi tetapi ada 1orang
yang bisa membuat typografi kami yang tidak bisa membuat papan dan membentuknya
sesuai dengan katanya dan dia hanya tinggal menulisnya dengan cat. Saling
membantu itu penting, interaksi dan kerja sama” lalu kak adit menyambung “Fris,
kamu tau gak filosofi tempat ini? San, tadi dia ngeluh gak waktu jalan kesini”
Sandy menjawab sambil tertawa “biasa bang cewek gak biasa di ajak ke tempat
kaya gini” Lalu bang Adit menjelaskan filosofi tempat ini “di perjalanan pasti
kamu merasa lelah, apalgi semalam hujan jalanan becek dan licin banyak nyamuk
dan serangga bahkan katak. Banyak orang mengeluh ditengah perjalanan. Tetapi
ketika kita menikmati perjalanan kamu sampai ke sini dan bertemu dengan kami
dan tempat yang indah ini. Bukankah ini sama seperti hidup? Tak banyak yang
perlu kita keluhkan, semuanya sudah diatur oleh Tuhan, kita cukup menjalani dan
menikmati dan lihatlah semuanya akan terlihat baik.” Filosofi yang mendalam,
orang-orang yang baik, dan mengajarkan ku menjadi seorang introvert itu tidak
baik.
Senja pun tiba tak terasa tawa
canda dan cerita dan suguhan kopi yang mereka buat dari air yang dimasak dari
kayu api begitu terasa hangat seperti keluarga. Aku Pamit untuk pulang, aku dan
Sandy pun berjalan berjalan melewati naikan itu dan tiba-tiba Sandy menyruhku
ungtuk melihat kebelakang “Lihatlah tempat itu dari sini, dan langit senja yang
indah itu aa pendapatmu?” aku tersadar hari itu indah, begitu banyak hal tak
aku syukuri dalam hidup ini. Pengalam yang tak aku lupakan dan begitu juga
orang-orang itu, aku berterimakasih kepada Tuhan telah mengubahkan ku melalui
mereka orang-orang yang baik dan mencitai alam. Mereka adalah teman-teman yang
tak akan aku lupakan sampai kapanpun. Sandy mengantarku pulang, dan aku juga
banyak berterimasih telah mengajakku dan kami menjadi teman yang baik dan sejak
saat itu juga aku suka bersosialisasi dan lebih terbuka aku lebih memiliki
banyak teman-teman yang baik.